Menghajar Hama Kutu Kebul Pada Tanaman Cabai


Indonesia Revive! -- Ternyata bukan hanya manusia, tanaman cabai pun ada jang terserang penyakit kuning. Tentu jenisnya berbeda, termasuk penyebabnya. ”Penyakit kuning itu ditularkan oleh vektor (serangga),” Ungkap Dr. Ir. Arman Wijonarko, M.Sc., seorang peneliti sekaligus dosen di Fakultas Pertanian UGM (Universitas Gadjah Mada) Yogyakarta. “Vektornya itu bernama kutu kebul (Bemisia tabaci),” lanjutnya.

 Penyakit kuning pada tanaman cabai awalnya muncul tahun 2003 di daerah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Kemudian, dengan cepat penyakit itu menyebar ke setiap sentra tanaman cabai di seluruh tanah air, khususnya yang ada di daerah pegunungan. Kerugian yang diderita petani akibat serangan penyakit itu secara keseluruhan mencapai milyaran rupiah.

Gejala akibat serangan penyakit kuning muncul sejak tanaman cabai masih berupa bibit hingga tanaman tua yang sudah berproduksi. “Ciri-cirinya daun kuning, terus mengkeriting," tutur laki-laki kelahiran Magelang, 16 Maret 1967 itu.

Belum banyak kajian mengenai aspek dasar dari Bemisia tabaci (B. tabaci) di Indonesia dalam kaitannya dengan penyakit kuning. Dengan penelitiannya yang berjudul “Epidemi Penyakit Kuning pada Tanaman Cabai, Inang Alternatif, dan Penyebaran Vektornya”, Arman berharap akan memperoleh informasi dasar tentang tanaman-virus penyakit kuning-vektor penularnya beserta interaksinya di ekosistem pertanian.

Penelitian itu memang menyangkut masalah vektor dan penyakitnya, tapi Arman sendiri lebih banyak meneliti vektornya. Ia melakukan penelitian tentang vektor itu sejak tahun 2003. “Penelitiannya sejak awal muncul penyakit kuning,” Ungkapnya.

Dilaporkan bahwa B. tabaci mempunyai inang lebih dari 500 jenis tanaman dan sebagian besar merupakan tanaman penting hortikultura dan tanaman hias, atau tanaman di dalam rumah kaca.  Dan, inang itu dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok, yaitu: (1) inang untuk makan (feeding host), dan (2) inang reproduksi (reproductive host).

B. tabaci dikenal sebagai serangga yang mempunyai kisaran penyebaran geografis cukup luas, mulai dari daerah subtropis hingga daerah tropis. Serangga tersebut dapat menularkan sekitar 110 jenis virus yang menyebabkan penyakit tanaman. Untuk penyakit kuning sendiri disebabkan oleh virus dari kelompok geminivirus.

Awalnya, Arman melakukan survei di beberapa sentra tanaman cabai yang meliputi tiga level ketinggian, yaitu mulai dari ketinggian kurang dari 200 meter di atas permukaan laut, 200-600, dan 600 lebih. Adapun wilayah yang menjadi tempat penelitiannya adalah Magelang (3 lokasi), Temanggung (3 lokasi), Pekalongan (1 lokasi), Brebes (2 lokasi), Tegal (2 lokasi), Purbalingga (1 lokasi), Karanganyar (3 lokasi), Sleman (2 lokasi), Bantul (2 lokasi), dan Kulonprogo (1 lokasi).

Survei yang mencakup pengamatan terhadap intensitas serangan penyakit kuning, vektor, dan kondisi agroekosistem itu menunjukkan adanya tempat yang merupakan daerah endemis serangan penyakit kuning. Di dataran tinggi, seperti daerah Pakem dan Temanggung, walaupun populasi serangga vektornya sedikit, namun intensitas kerusakan yang ditimbulkannya mencapai >80%. Sebaliknya,di dataran rendah seperti daerah Bantul dan Kulonprogo yang populasi vektor sangat banyak, tingkat serangan penyakit kuning  pada pertanaman cabai malah tidak begitu tinggi.

Pengamatan pada pertanaman cabai di dataran rendah menunjukkan bahwa populasi vektor pada tanaman cabainya sangat sedikit. Vektor malah banyak ditemukan pada tanaman lain seperti terong, tomat, semangka, ubi jalar, mentimun dan gulma. Begitu juga dengan virusnya, juga lebih banyak di tanaman selain cabai.

Untuk pengamatan vektor, Arman menjelaskan bahwa di Jogja pun biotipe vektornya bermacam-macam. Kemudian pengamatan itu juga menemukan beberapa musuh alami jenis serangga seperti Coccinellidae, Miridae, dan laba-laba yang potensial untuk diuji kemampuannya dalam menekan populasi vektor.

Arman juga menemukan bahwa adanya lahan dengan sanitasi yang baik khususnya bermula dan gulmanya minimum, umumnya tingkat serangan penyakit kuning tidak setinggi pada kebun yang tidak begitu dirawat. Dan adanya tanaman lain yang bertindak sebagai ”barrier” bagi masuknya vektor ke pertanaman cabai, bisa menekan serangan penyakit kuning maupun populasi vektornya. Salah satu tanaman yang dapat berfungsi sebagai barrier adalah tanaman jagung. “Kalau tanaman cabe itu dikelilingi oleh tanaman jagung, itu lebih aman,” katanya.

Kemudian pada daerah yang pola tanamnya berganti dengan komoditas yang bukan merupakan inang B. tabaci, tingkat serangan penyakit kuningnya relatif lebih rendah. Misalnya di daerah Bantul, meskipun populasi vektornya cukup tinggi, bahkan di bulan Agustus – September boleh dikatakan terjadi eksplosi B. tabaci pada tanaman terong, tetapi intensitas serangan tidak setinggi di daerah Pakem. Itu karena di daerah Bantul terjadi rotasi tanam, sedang di daerah Pakem terus-menerus ditanami cabai.

Intensitas serangan penyakit kuning pada cabai rawit mencapai 50-100%, sedangkan pada cabai besar berkisar antara 20-100%. Belum diketahui apakah ada varitas tanaman cabai yang toleran. Sementara menurut Arman, varietas cabai yang banyak diserang adalah TM 99, yang merupakan favorit petani Pakem, Magelang, Muntilan, dan Temanggung.

Mengenai pengendalian penyakit kuning di tingkat petani, mereka lebih banyak mengandalkan pada pestisida kimia yang sesungguhnya merupakan bahan beracun, dan belum tentu efektif untuk mengendalikan penyakit maupun vektornya. B. tabaci  menjadi masalah yang cukup sulit diatasi karena kemampuannya untuk resisten terhadap pestisida yang masih relatif baru, seperti imidakloprid dari golongan neonikotinoid.
Kepada para petani cabai Indonesia, Arman menyarankan,agar penyakit kuning bisa diminimalisir, maka perlu melakukan: (1) rotasi tanam dengan menanam jenis tanaman lain untuk memutus rantai vektor; (2) pembibitan yang bebas penyakit; (3) pembersihan lahan dari tanaman liar atau gulma.

Pada dasarnya, Arman hanya memberikan cara-cara pencegahannya saja. Kata Arman, “Virus itu kalau sudah masuk nggak ada obatnya. Paling hanya dipupuk supaya agak kuat.” (Sumber: Wawancara Arman Wijonarko, Thursday, January 01, 2004, 3:00:00 PM, by yunisa @yenese.com)

0 komentar:

Post a Comment