Interview With Daniel Rudi Haryanto

Indonesia Revive! -- Daniel Rudi Haryanto merupakan salah satu sutradara berbakat Indonesia. Lewat filmnya berjudul Prison and Paradise, ia berhasil mendapatkan penghargaan Director Guild of Japanese Award. Prestasi yang sangat menggembirakan bagi negara kita, Indonesia. Ia pernah masuk dalam industri perfilman indonesia, bersama tokoh-tokoh film ternama Indonesia, seperti Garin Nugroho dan Riri Riza. Sekitar tahun 2010, ia menuntaskan film dokumenter yang sudah dirisetnya selama tujuh tahun. Hasilnya? Sambutan luar biasa di berbagai festival film ternama dunia.

Dalam kesempatan kali ini, redaksi Indonesia Revive! berhasil mewawancarai mas Daniel Rudi Haryanto yang baik via Facebook terkait filmnya dan pandangannya tentang Indonesia. Berikut hasil wawancara tersebut:


1. Mengapa memilih judul Prison and Paradise? Apa filosofi di baliknya?
Judul Prison and Paradise saya pilih karena latar belakang peristiwa Bom Bali 1 yang terjadi di Pulau Bali, pada 12 Oktober 2002. Dari hasil riset saya menemukan fakta yang terjadi pada korban, keluarga korban, pelaku dan keluarga pelaku. Paradigma Surga dan Penjara itu menjadi sumir, bergantung pada perspektif masing-masing subyek. Bagi Korban, para pelaku bertujuan mencari Surga, tetapi bagi keluarga korban, para pelaku pantas mendapat ganjaran hukuman setimpal, Sementara itu bagi para pelaku, penjara adalah tiket mereka ke Surga.

2. Mengapa memilih tema film ini?

Tema film adalah dampak serangan bom bunuh diri terhadap para pelaku, keluarga pelaku dan keluarga korbannya. Saya mengambil tema ini karena temuan di dalam riset, bahwa para pelaku melakukan serangan bom bunuh diri karena pembelaan mereka terhadap umat Islam, tetapi korbannya adalah dari kalangan umat Islam juga. Ini menjadi persoalan bagi lingkungan kita hari ini, bahwa ideologi dan penerapan ideologi selalu berbenturan dengan realitas korban yang seringkali menjadi subyek yang harusnya dibela.


3. Apa yang anda harapkan dari film ini?
Saya membuat film ini bertujuan untuk membuka diskursus, yaitu pembahasan-pembahasan yang lebih maju lagi, bahwasanya terorisme tidak sekedar kasus penerapan kekerasan dalam lingkungan sosial, akan tetapi menjadi pekerjaan rumah, sebab pasca serangan bom bunuh diri, banyak pekerjaan rumah yang ditanggung oleh lingkungan sosial, negara, pemerintah setiap pihak termasuk para ulama dan umat secara keseluruhan, tidak hanya pada satu organisasi agama terntentu, akan tetapi setiap institusi agama. Hari ini kita dihadapkan pada perspektif sempit tentang terorisme tetapi seringkali tidak mampu keluar dari ruang sempit perspektif itu untuk melongok realitas yang terjadi pada keluarga, anak-anak dan lingkungan sosial keluarga korban dan keluarga para pelaku, Dengan adanya pembahasan-pembahasan tersebut akan didapatkan gagasan-gagasan untuk terlibat untuk mencari solusi.

4. Film apa lainnya yang sedang anda buat?
Saya sedang mempersiapkan film bersama Indonesia Corruption Watch (ICW)

5. Bisa cerita profil mas Daniel sedikit saja?

Profil saya? Saya lahir 17 April 1978, besar di lingkungan keluarga plural. Saya anak nomer 4 dari 5 bersaudara. Kakak-kakak saya sebagian adalah aktifis pergerakan Islam (Pelajar Islam Indonesia dan Gerakan Pemuda Islam Indonesia). Sementara anggota keluarga saya yang lain adalah pemeluk agama Kristen.

Saya tumbuh dalam ruang-ruang diskusi dan pertemuan berbagai aliran pemikiran. Dari Marxis hingga kajian-kajian Islam. Dari sinilah saya tumbuh, Sewaktu SMA saya ditangkap aparat Orde Baru dan dikeluarkan dari Sekolah Menengah Seni Rupa Yogyakarta karena mengkritisi kebijakan pendidikan pemerintah Soeharto yang saat itu menteri P dan K adalah Wardiman Djojonegoro.

Karena sempat di blacklist, Saya melanjutkan ke SMA biasa (Persamaan) dan lulus. Lalu melanjutkan kuliah di IKJ (Institut Kesenian Jakarta fakultas Film dan Televisi,) saya mengambil jurusan Dokumenter.

Sambil kuliah saya mendirikan kelompok studi film CINEMA SOCIETY, Lembaga kajian sinema Indonesia. Menerbitkan majalah Sinema Society dan menyelenggarakan workshop film secara independen (1999-2005).

Lulus dari FFTV IKJ tahun 2005 dan kemudian bekerja di ranah produksi film sebagai sutradara Behind The Scene film-film Indonesia bersama Riri Riza, Garin Nugroho, Teddy Soeriyaadmaja, Rako Prijanto, Affandi Abdulrahman, Djenar Mahesa Ayu, Nia Dinata dan sineas Indonesia lainnya.

Setelah 5 tahun di dunia "Industri Film" saya memutuskan untuk menyelesaikan film saya yang telah saya riset selama 7 tahun berjudul PRISON AND PARADISE, Film ini disambut di berbagai festival internasional di Dubai, India, Korea Selatan, Roma, Canada dan Jepang. Di Yamagata International Documentary Film Festival 2011 saya mendapat anugerah Director Guild of Japan Award.

6. Boleh tanya pendapat anda: menurut anda, bagaimana kondisi Indonesia saat ini?
Pendapat saya tentang kondisi Indonesia saat ini? Saya mendapat kesempatan melakukan perjalanan ke berbagai festival film internasional.

Dari ranah hijrah itulah saya melongok Indonesia. Memang memprihatinkan, Indonesia hanya dikenal sebagai Negara teroris, korupsi dan Tenaga Kerja Murah.

Ketika kembali ke Indonesia saya berada dalam realitas Indonesia itu, Ini semakin membuat saya prihatin namun sekaligus mencambuk diri saya untuk terus berkarya lebih baik lagi, sebab saya sadar tidak mungkin berharap pada situasi negeri ini, saya berharap pada diri sendiri, Lebih keras lagi berpikir dan giat kerja dengan mempersiapkan karya-karya baru.

Menjadi bagian dari pergaulan internasional dan membawa nama baik Indonesia. Tentu ini kerja berat, tetapi bukan berarti tidak bisa. Dengan prestasi di Jepang dan berbagai festival film itu, saya merasa sebagai langkah awal dan Saya yakin bisa melanjutkannya.

7. Apakah indonesia bisa menjadi negara maju? Jelaskan.

Indonesia memiliki kesempatan besar menjadi negara maju. Tahun 1975 kita sama dengan Korea Selatan, Pasca perang dunia ke dua kita sejajar dengan negara-negara bekas jajahan dan negara-negara yang kalah perang.

Indonesia tidak hanya memiliki kekayaan alam namun juga sumber daya manusia. Ini mesti dikelola secara baik. Untuk mengelolanya butuh pemimpin yang cerdas, progresive dan bijak. Namun lebih penting lagi adalah kesadaran manusia Indonesia, Terutama kesadaran kolektif yang berangkat dari diri sendiri untuk memacu kemauan maju dan kerja keras, seperti Manusia Jepang dan Korea Selatan, dengan berkarya menurut bakat masing-masing.

Teramat banyak pekerjaan rumah di hadapan manusia Indonesia, harus satu satu dikerjakan. Dan itu memulainya dari diri sendiri. Saya belajar itu dari sejarah. Catatan sejarah menyampaikan riwayat tokoh-tokoh, semisal Tan Malaka, ia memiliki kecerdasan yang luar biasa dan membuktikan bahwasanya manusia Indonesia yang makan tempe mampu berdebat di forum Komintern (Komunis Internasional) berdebat dengan Trotsky, ada lagi Hatta, ia mampu membawa kemenangan-kemenangan diplomasi menghadapi kepentingan negara-negara imperialis, ada Soekarno yang menggelorakan jiwa Kebangsaan menjadi Indonesia, ada Mbah Maridjan yang setia pada amanat dan tugas kebudayaan, ada jendral Soedirman yang ahli di bidang gerilya hingga Nasution dan Vietkong belajar strategi gerilya tentara Indonesia.

Saya rasa ini dulu jawaban dari saya mas.
Jika ada pertanyaan lagi silahkan diajukan...

Terimakasih atas perhatian dan apresiasi anda

Salam dan selamat berkarya.

Daniel Rudi Haryanto

4 komentar:

Membaca Indonesia said...

terimakasih telah menulis berita ini, selamat berkarya untuk Indonesia...salam...:)

Lilih said...

@Membaca Indonesia Sama2 mas :D. Terima kasih atas interviewnya.

Gia said...

woh, mas Lilih wawancarain mas Rudy ya? keren banget...

Lilih said...

iya. mas rudy kan baik... :D

Post a Comment